News  

Kemendikdasmen Catat Rekor Peserta Bug Bounty 2026, Diikuti 1.626 Peretas Etis

Walai.id, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat rekor partisipasi dalam Program Bug Bounty 2026 yang diikuti 1.626 peretas etis (ethical hacker) dari berbagai daerah di Indonesia, Jakarta, 21/06/2026.

Program yang diselenggarakan Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen itu berlangsung pada 6 April hingga 25 Mei 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan sistem digital pendidikan nasional.

Kepala Pusdatin Kemendikdasmen Wibowo Mukti mengatakan jumlah peserta tahun ini meningkat sekitar 619 persen dibandingkan 2022 yang diikuti 226 peserta.

“Melalui program ini, warga pendidikan dapat berkontribusi menemukan dan melaporkan kerentanan sistem secara bertanggung jawab sehingga keamanan layanan digital pendidikan semakin kuat,” ujarnya.

Sejak pertama kali digelar pada 2022, Program Bug Bounty telah melibatkan 3.338 peretas etis dari 34 provinsi. Mereka berpartisipasi menguji keamanan 68 aplikasi strategis milik Kemendikdasmen.

Baca Juga :  Danantara Terbitkan Obligasi Global USD1,5 Miliar, Minat Investor Capai USD4,6 Miliar

Menurut Wibowo, temuan dari para peserta menjadi bagian penting dalam memperkuat perlindungan data jutaan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan yang memanfaatkan layanan digital pendidikan.

Kemendikdasmen juga berencana mengembangkan Bug Bounty menjadi platform berkelanjutan yang dapat diakses sepanjang tahun melalui situs Aman Bersama.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti menilai keamanan siber tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola teknologi informasi, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan di sektor pendidikan.

Ia mengatakan keberhasilan program tersebut turut mendapat pengakuan internasional setelah terpilih sebagai Champion WSIS Prizes 2026, penghargaan yang diselenggarakan dalam forum World Summit on the Information Society (WSIS) di bawah koordinasi International Telecommunication Union (ITU) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Selain penyelenggaraan Bug Bounty, Kemendikdasmen juga menggelar EDUCSIRT Summit 2026 yang membahas tantangan keamanan siber di era kecerdasan buatan (AI).

Baca Juga :  DPR dan Kementerian Haji Laporkan Evaluasi Haji 2026 kepada Prabowo

Dalam forum tersebut, praktisi keamanan digital forensik Joshua M. Sinambela menekankan pentingnya pemanfaatan AI untuk memperkuat sistem pertahanan siber dan mendukung deteksi dini terhadap ancaman digital.

Tenaga Ahli Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Donny Budi Utoyo juga mengingatkan pentingnya kemampuan manusia dalam memanfaatkan teknologi secara bijak.

“Manusia tidak dapat digantikan AI, namun manusia yang tidak memakai AI akan tergantikan oleh mereka yang memanfaatkan AI,” katanya.

Pada kesempatan itu, Kemendikdasmen memberikan penghargaan kepada 12 peserta terbaik dari kategori siswa, mahasiswa, guru, dan dosen. Para pemenang menerima sertifikat nasional serta uang pembinaan dengan total nilai Rp200 juta.

Mereka juga akan bergabung dalam komunitas Manggala Edu, wadah kolaborasi yang menghimpun talenta-talenta keamanan siber dari berbagai jenjang pendidikan di Indonesia.