Walai.id, JAKARTA — Pemerintah mendorong penguatan kualitas dan kedalaman pasar modal untuk menjaga kepercayaan investor serta mendukung pembiayaan jangka panjang dunia usaha di tengah ketidakpastian global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan hal itu dalam Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia 2026 di Jakarta, pada Selasa (11/8/2026). Ia menyebut ekonomi Indonesia pada Semester I-2026 tumbuh 5,45 persen dengan inflasi 2,88 persen.
Hingga Juni 2026, jumlah perusahaan tercatat di pasar modal mencapai 957 perusahaan, dengan 28,9 juta investor dan kapitalisasi pasar sekitar Rp9.897 triliun. Indonesia juga mencatat jumlah investor terbesar di ASEAN.
Pemerintah menilai penguatan pasar modal tidak cukup hanya melalui peningkatan skala, tetapi juga perlu meningkatkan likuiditas, tata kelola, transparansi, dan kualitas emiten. Hingga Juli 2026, terdapat tujuh perusahaan baru tercatat dengan dana IPO sekitar Rp2,16 triliun.
Reformasi pasar modal terus dilakukan bersama OJK, BEI, KSEI, Bank Indonesia, dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk pengembangan instrumen investasi dan percepatan demutualisasi BEI.
Di sisi lain, Satgas Debottlenecking telah menerima 170 aduan pelaku usaha hingga 30 Juli 2026, dengan 124 kasus telah diselesaikan. Pemerintah menilai langkah tersebut penting untuk menciptakan kepastian dan iklim investasi yang kondusif.