Walai.id, BUSAN — Empat pustakawan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) membawa gagasan dan praktik Indonesia dalam rangkaian IFLA World Library and Information Congress (WLIC) 2026 yang berlangsung di Korea Selatan, 10–13 Agustus 2026.
Kongres bertema Libraries Powering Transformation tersebut diikuti 3.191 delegasi dari 111 negara dan teritori dengan lebih dari 200 sesi yang membahas AI, literasi iklim, kebebasan intelektual, berbagi pengetahuan, hingga transformasi perpustakaan.
Keempat pustakawan Perpusnas, yakni Irhamni Ali, Suci Indrawati Irwan, Sadariyah Ariningrum Wijiastuti, dan Yaya Ofia Mabruri, tampil dalam sejumlah forum dengan membawa perspektif Indonesia.
Ariningrum memperkenalkan budaya populer, program Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA), serta peran perpustakaan dalam memperluas dampak literasi. Sementara Yaya membahas pentingnya kolaborasi untuk memperkuat budaya membaca dan kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan AI.
Suci membawa kajian mengenai Diamond Open Access dan komunikasi ilmiah, sedangkan Irhamni memaparkan pemanfaatan data dan pendekatan AI untuk mendukung pemantauan kinerja perpustakaan publik Indonesia.
Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengapresiasi partisipasi tersebut. Menurutnya, forum internasional bukan hanya ruang belajar, tetapi juga kesempatan memperkenalkan pengalaman Indonesia kepada dunia.
“Memang kita perlu belajar dari dunia, tetapi dunia juga perlu mendengar pengalaman Indonesia,” ujar Aminudin, pada Rabu, 19/8/2026..