News  

Kemendikdasmen Gandeng Pijar Foundation Hadirkan Pendidikan Bilingual untuk Murid Tuli

WALAI.ID, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggandeng Pijar Foundation dan sejumlah mitra strategis untuk memperkuat pendidikan inklusif melalui Program Pendidikan Bilingual bagi murid Tuli, Rabu, 01/07/2026.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan layanan pendidikan yang setara dan berkualitas bagi seluruh anak Indonesia, termasuk peserta didik dengan kebutuhan khusus.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pendidikan inklusif merupakan komitmen pemerintah untuk memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama dalam mengakses pendidikan.

Menurutnya, dukungan pemerintah, komunitas Tuli, mitra pendidikan, serta sektor swasta diharapkan dapat membuka kesempatan yang lebih luas bagi murid Tuli untuk memahami pelajaran, mengembangkan potensi, dan meraih masa depan yang lebih baik.

“Komitmen kami di pemerintah adalah mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Makna ‘semua’ ini sangat inklusif, terlepas dari kemampuan fisik, sensorik, intelektual, sosial, emosional, maupun psikologis. Sudah menjadi kewajiban pemerintah memastikan ekosistem pendidikan kita betul-betul inklusif,” ujar Fajar dalam keterangannya, pada Selasa (30/6/2026).

Baca Juga :  BAZNAS Gelar Bootcamp Santripreneur 2026, Cetak Wirausaha Santri

Fajar menegaskan, layanan pendidikan bagi murid Tuli bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian penting dari pembangunan ekosistem pendidikan nasional yang inklusif.

Ia mengungkapkan, tren pendidikan inklusif terus meningkat seiring semakin banyaknya anak berkebutuhan khusus yang memilih bersekolah di sekolah reguler. Dari lebih dari 381 ribu peserta didik berkebutuhan khusus di Indonesia, sekitar 217 ribu di antaranya saat ini menempuh pendidikan di satuan pendidikan inklusif.

“Besarnya jumlah peserta didik di sekolah inklusif menunjukkan bahwa kita bergerak menuju paradigma pendidikan yang inklusif, bukan segregatif,” katanya.

Melalui kemitraan tersebut, Pijar Foundation menghadirkan model pembelajaran bilingual yang memadukan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dengan bahasa Indonesia tulis dan lisan.

Direktur Eksekutif Pijar Foundation, Cazadira Fediva Tamzil, mengatakan pengakuan terhadap bahasa isyarat menjadi pintu masuk penting bagi murid Tuli untuk memahami materi pembelajaran sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir dan berinteraksi.

Sementara itu, Ketua Tim Kurikulum dan Peneliti Bahasa Isyarat Pijar Foundation, Adhi Kusumo Bharoto, mengajak masyarakat untuk melihat perbedaan sensorik sebagai bagian dari keberagaman potensi anak, bukan sebagai kekurangan.

Baca Juga :  Wamenko Polkam: PLN Berperan Strategis Dukung Ketahanan Energi dan Pertahanan Negara

Dalam kesempatan yang sama, Ichiro Kabasawa memaparkan pengalaman sejumlah negara di Asia Tenggara yang berhasil mengembangkan pendidikan bilingual bagi murid Tuli. Model tersebut dinilai mampu mendorong lahirnya lulusan yang mandiri dan berperan sebagai pemimpin di komunitasnya.

Dukungan terhadap kolaborasi ini juga datang dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, lembaga filantropi, dan masyarakat sipil menjadi fondasi penting dalam memperluas akses pendidikan inklusif di Indonesia.

“Penandatanganan hari ini merupakan demonstrasi kuat tentang apa yang bisa dicapai ketika pemerintah, masyarakat sipil, dan mitra filantropis berkumpul di sekitar tujuan yang sama. Ini bukan sekadar perjanjian formal, tetapi komitmen bersama agar anak-anak Tuli memiliki kesempatan lebih luas untuk belajar, tumbuh, dan berkontribusi bagi masyarakat,” ujar Pratikno.

Program Pendidikan Bilingual untuk Tuli diharapkan menjadi langkah konkret dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih ramah, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan peserta didik Tuli di berbagai daerah di Indonesia.