JAKARTA, WALAI.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai diversifikasi komoditas dan penguatan inovasi teknologi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing sektor perikanan Indonesia di tengah tantangan perubahan iklim, penyakit, dan dinamika pasar global.
Hal itu disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Budidaya Laut BRIN, Rachman Syah, dalam webinar “Dari Laut ke Pasar: Penguatan Daya Saing Produk Unggulan Perikanan Daerah” yang digelar Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, pada Kamis (25/6/2026).
Menurut Rachman, Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi perikanan yang sangat besar, baik dari sektor perikanan tangkap maupun budidaya. Dalam satu dekade terakhir, budidaya rumput laut dan udang menjadi penyumbang utama produksi perikanan nasional.
Namun, tingginya ketergantungan terhadap beberapa komoditas utama dinilai membuat sektor perikanan rentan terhadap perubahan iklim, serangan penyakit, serta fluktuasi pasar internasional.
“Karena itu diperlukan transformasi sektor perikanan melalui diversifikasi komoditas, inovasi teknologi, hilirisasi produk, dan penguatan daya saing agar tercipta pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dan bernilai tambah,” ujar Rachman.
Ia menjelaskan, produksi perikanan tangkap terbesar masih berasal dari kawasan timur Indonesia yang memiliki sumber daya laut melimpah. Meski demikian, potensi tersebut belum didukung infrastruktur pascapanen, rantai dingin (cold chain), dan industri pengolahan yang memadai.
Akibatnya, sebagian besar hasil tangkapan masih dipasarkan dalam bentuk segar atau bahan baku sehingga nilai tambah yang diperoleh masih rendah.
Selain persoalan infrastruktur, sektor perikanan juga menghadapi tantangan pada aspek distribusi, pengolahan, hingga pemasaran produk.
Rachman menyoroti komoditas rumput laut yang hingga kini masih menjadi tulang punggung produksi budidaya nasional. Namun, produktivitasnya sangat dipengaruhi perubahan kondisi oseanografi, cuaca ekstrem, dan serangan penyakit ice-ice.
Di sisi lain, komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti udang juga menghadapi ancaman peningkatan penyakit akibat naiknya suhu perairan.
Menurutnya, kenaikan suhu dapat memicu stres pada udang sekaligus mempercepat perkembangan bakteri Vibrio yang menjadi penyebab berbagai penyakit serius pada tambak.
“Kondisi ini berpotensi meningkatkan angka kematian, menurunkan produktivitas, dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, BRIN mendorong penerapan sistem biosekuriti yang lebih kuat, pemantauan kualitas lingkungan secara real time, serta pengembangan teknologi budidaya yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Rachman juga menekankan pentingnya inovasi budidaya, pengembangan varietas unggul, serta hilirisasi produk guna meningkatkan nilai tambah komoditas strategis seperti rumput laut dan udang.
Di sektor pascapanen, ia menilai keterbatasan fasilitas pendingin dan rantai dingin masih menjadi kendala utama yang menyebabkan penurunan mutu produk selama proses penyimpanan dan distribusi.
Karena itu, peningkatan daya saing perikanan Indonesia perlu didukung melalui penerapan praktik budidaya berkelanjutan, penguatan sistem mutu, sertifikasi produk, serta pengembangan merek yang mampu meningkatkan kepercayaan pasar global.
Selain itu, ketersediaan benih unggul yang berkualitas dan berkelanjutan juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas budidaya perikanan di daerah.
Di akhir paparannya, Rachman merekomendasikan sejumlah langkah strategis bagi pemerintah daerah, di antaranya mengembangkan komoditas unggulan berbasis potensi lokal, membangun proyek percontohan berbasis inovasi BRIN, memperkuat peran BRIDA sebagai penggerak inovasi daerah, mendorong investasi hilirisasi, serta membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan.