News  

BRIN Dorong Hilirisasi Perikanan, Nilai Ekspor Tembus 6,27 Miliar Dolar AS

JAKARTA, WALAI.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan hilirisasi industri perikanan sebagai strategi meningkatkan daya saing produk unggulan nasional sekaligus mendukung ketahanan pangan berbasis ekonomi biru.

Hal itu disampaikan Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Yopi, dalam webinar “Dari Laut ke Pasar: Penguatan Daya Saing Produk Unggulan Perikanan Daerah” yang diselenggarakan Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, pada Kamis (25/6/2026).

Yopi mengungkapkan, nilai ekspor produk perikanan Indonesia pada periode 2025–2026 telah mencapai 6,27 miliar dolar Amerika Serikat. Komoditas utama yang mendominasi ekspor meliputi udang, tuna, cakalang, cumi, sotong, rajungan, kepiting, dan rumput laut.

Menurutnya, sektor perikanan budidaya, khususnya rumput laut dan tambak air payau, memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi nasional.

“Dengan nilai pemasaran dalam negeri yang juga tinggi, sektor ini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi yang nyata, baik bagi daerah maupun nasional,” ujar Yopi.

Ia menjelaskan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi perikanan nasional mencapai 24,58 juta ton per tahun. Target tersebut difokuskan pada hilirisasi industri dan penguatan ketahanan pangan melalui peningkatan produksi komoditas unggulan.

Baca Juga :  Prabowo dan Rosan Bahas Optimalisasi Aset Negara serta Konsolidasi BUMN

Komoditas prioritas yang menjadi fokus pemerintah antara lain udang, tilapia, ikan nila salin, lobster, kepiting, dan rumput laut.

Yopi mengatakan, selain menyasar pasar ekspor, peningkatan produksi juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan protein ikan dalam negeri serta mendukung program pangan nasional.

Meski demikian, ia mengakui sektor perikanan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rendahnya pemanfaatan teknologi di sektor perikanan tangkap, tingginya biaya operasional budidaya, hingga praktik penangkapan ikan ilegal (illegal fishing).

Selain itu, hilirisasi industri juga masih terkendala tingginya biaya logistik, belum optimalnya sistem rantai dingin (cold chain), serta dominasi pelaku usaha berskala mikro.

“Karena itu diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga riset, dan pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing produk unggulan perikanan,” katanya.

Baca Juga :  Wapres Gibran: Indonesia Semakin Mandiri Pangan, Produksi Beras Naik Signifikan

BRIN, lanjut Yopi, akan memperkuat peran Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) maupun BAPPERIDA sebagai penghubung antara teknologi, kebutuhan industri, serta pelaku usaha di daerah.

Menurutnya, pembangunan hub inovasi daerah menjadi langkah penting untuk mempercepat alih teknologi, meningkatkan kualitas pengolahan hasil perikanan, serta memperkuat standarisasi mutu produk agar mampu bersaing di pasar global.

“Kami akan fokus memperkuat ekosistem hub inovasi daerah, terutama di wilayah yang memiliki potensi maritim dan perikanan yang kuat,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Sri Nuryanti, mengatakan BRIN siap menjadi mitra pemerintah daerah melalui penyediaan teknologi, pendampingan hilirisasi, hingga menjembatani kolaborasi antara akademisi dan dunia industri.

Menurutnya, BRIN telah mengembangkan sejumlah inovasi, di antaranya teknologi pengolahan hasil perikanan untuk ekspor serta hapa semi kerucut yang lebih efisien untuk pemeliharaan juvenil biota laut seperti teripang pasir.

Inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi budidaya, sekaligus memperkuat daya saing sektor perikanan Indonesia di pasar domestik maupun internasional.