Walai.id, MALANG – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa digitalisasi pendidikan tidak bertujuan menggantikan metode pembelajaran yang telah berjalan baik, melainkan memperkaya pengalaman belajar peserta didik dengan tetap menjaga keseimbangan antara teknologi dan tradisi belajar.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi secara bijak di ruang kelas agar tidak mengganggu perkembangan kognitif, kreativitas, maupun kesehatan mental siswa.
Menurutnya, transformasi digital di dunia pendidikan tidak hanya sebatas menghadirkan perangkat teknologi di sekolah, tetapi juga memastikan penggunaannya tetap mendukung peran guru sebagai fasilitator pembelajaran.
“Jangan sampai murid kehilangan daya kreativitasnya, guru kehilangan inovasinya. Kalau seperti itu, maka teknologi justru bisa menggantikan peran pedagogis guru,” ujar Fajar di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang, Jawa Timur, Sabtu (21/6/2026).
Ia menyampaikan bahwa pemerintah telah menghadirkan berbagai perangkat pembelajaran digital seperti Interactive Flat Panel (IFP) untuk mendukung proses belajar modern. Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap harus diimbangi dengan pendekatan pembelajaran yang humanis.
Fajar juga menyoroti tantangan pendidikan di era digital, termasuk potensi penurunan fokus belajar, kecemasan, hingga dampak penggunaan gawai yang berlebihan. Karena itu, Kemendikdasmen mendorong pendekatan pembelajaran berbasis deep learning yang menempatkan pengalaman belajar siswa sebagai pusat proses pendidikan.
Di sisi lain, kebiasaan menulis manual tetap dipertahankan melalui penggunaan buku tulis guna mendukung penguatan kemampuan motorik halus serta proses berpikir yang lebih mendalam.
Sementara itu, salah satu peserta pelatihan Digitalisasi Pembelajaran, Ari, guru dari SMK Industri Mojokerto, mengaku memperoleh banyak manfaat dari pelatihan tersebut, khususnya dalam memahami fitur teknologi pembelajaran yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.
“Hal barunya adalah fitur-fitur yang sebelumnya tidak kami gunakan, seperti kamera yang ternyata bisa digunakan hingga 4K dengan pengaturan tertentu,” ujarnya.
Ari menambahkan, pelatihan tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis guru, tetapi juga mendorong peserta untuk menularkan ilmu kepada rekan-rekan di sekolah masing-masing sebagai bagian dari proses pengimbasan.
Menurutnya, keberhasilan digitalisasi pendidikan sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi secara tepat. Karena itu, pelatihan menjadi bagian penting dalam memastikan transformasi pendidikan berjalan efektif dan berkelanjutan.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa keberhasilan digitalisasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh peran guru dalam menggunakannya secara bijak dan manusiawi untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih berkualitas.