Walai.id, JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar besar bagi ekonomi digital, tetapi harus mampu menjadi pencipta dan pemilik nilai agar pertumbuhan sektor tersebut memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Menurut Meutya, Indonesia saat ini berada pada momentum penting untuk mengubah potensi ekonomi digital menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Nilai ekonomi digital Indonesia telah mencapai sekitar 100 miliar dolar AS, terbesar di kawasan ASEAN, dan diproyeksikan meningkat menjadi 360 miliar dolar AS pada 2030.
“Menghubungkan masyarakat adalah bagian yang cukup mudah. Justru bagian yang jauh lebih sulit dan jauh lebih berharga adalah menghubungkan sistem kita serta mengubah seluruh pertumbuhan itu menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Meutya dalam Asia Economic Summit di Jakarta Selatan, pada Rabu (17/6/2026).
Ia mengatakan Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi penggerak utama ekonomi digital di kawasan. Dengan jumlah penduduk mencapai 281 juta jiwa atau hampir 40 persen populasi ASEAN, sekitar 220 juta pengguna internet, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta investasi asing langsung sebesar 55 miliar dolar AS pada tahun lalu, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk memimpin transformasi digital regional.
Meski demikian, Meutya mengingatkan bahwa besarnya nilai ekonomi digital tidak otomatis mencerminkan kekuatan ekonomi yang sesungguhnya apabila manfaatnya belum dinikmati secara luas oleh masyarakat.
Karena itu, pemerintah mendorong strategi retensi nilai agar manfaat ekonomi digital lebih banyak berputar di dalam negeri. Pemanfaatan teknologi digital diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku usaha kecil, termasuk UMKM, nelayan, dan petani.
“Produsen kecil kini dapat menjangkau pelanggan di seluruh negeri bahkan kawasan tanpa perantara yang mengambil sebagian besar keuntungan. Inilah makna sebenarnya dari transformasi digital,” katanya.
Meutya menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi, tetapi juga dari dampaknya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, nilai terbesar dari kecerdasan artifisial (AI) dan teknologi digital terletak pada kemampuannya menciptakan peluang ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Nilai terbesar AI bukan pada teknologinya, tetapi pada bagaimana kita menggunakannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.