News  

Rakernas IPI 2026 Dorong Penguatan Kompetensi dan Dampak Kerja Pustakawan

WALAI.ID, Jakarta – Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (PP IPI) menjadikan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IPI 2026 sebagai momentum memperkuat kompetensi pustakawan, konsolidasi organisasi, serta meningkatkan dampak kerja kepustakawanan bagi masyarakat.

Ketua Umum PP IPI Joko Santoso mengatakan Rakernas merupakan agenda tahunan organisasi profesi yang menjadi ruang bersama bagi pustakawan dari berbagai jenis perpustakaan, mulai dari perpustakaan umum, perguruan tinggi, perpustakaan khusus hingga perpustakaan sekolah.

“IPI merupakan rumah bersama seluruh pustakawan Indonesia. Melalui Rakernas ini kami tidak hanya mengevaluasi program kerja, tetapi juga mendengarkan aspirasi pustakawan dari berbagai daerah dan merumuskan program kerja IPI tahun 2027,” kata Joko dalam Taklimat Media Pra Rakernas IPI 2026 di Jakarta, pada Rabu (30/9/2026).

Taklimat media tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Umum PP IPI Edi Wiyono, Ketua PD IPI Jawa Tengah Itmamudin, serta Wakil Ketua Komisi Humas, Publikasi, dan Dokumentasi PP IPI Yogi Hartono.

Joko menjelaskan, tema Rakernas IPI 2026, “Terlibat, Bersinergi, dan Berdampak”, merefleksikan tiga aspek penting dalam pengembangan profesi pustakawan. Pustakawan dituntut hadir menjawab kebutuhan informasi dan pengetahuan masyarakat, membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta memastikan kerja kepustakawanan memberikan manfaat nyata.

“Pustakawan tidak sekadar ada, tetapi harus hadir dalam berbagai persoalan literasi dan kebutuhan pengetahuan masyarakat. Kemudian membangun sinergi dengan berbagai pihak, karena hampir seluruh aspek pembangunan membutuhkan informasi dan pengetahuan. Pada akhirnya, kerja pustakawan harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Penguatan Kompetensi Pustakawan

Penguatan kompetensi menjadi salah satu fokus Rakernas IPI 2026. Joko menyebut Indonesia memiliki sekitar 219 ribu perpustakaan dari berbagai jenis. Sekitar 80 persen di antaranya merupakan perpustakaan sekolah.

Sementara jumlah pustakawan tercatat 22.218 orang, terdiri atas 5.635 pustakawan fungsional berstatus PNS dan 16.583 pustakawan non-PNS. Dari jumlah tersebut, sebanyak 6.858 pustakawan telah tersertifikasi.

Menurut Joko, peningkatan jumlah pustakawan tersertifikasi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan asesor dan tempat uji kompetensi di daerah.

“Ini yang juga akan kita evaluasi: bagaimana upaya menambah asesor, menambah tempat uji kompetensi, dan mendorong peningkatan jumlah pustakawan yang tersertifikasi,” jelasnya.

Baca Juga :  Wamenkeu: Ketahanan Fiskal dan Sektor Keuangan Penting Hadapi Risiko Global

Rakernas IPI 2026 juga menghadirkan sejumlah lokakarya untuk meningkatkan kapabilitas dan kompetensi pustakawan. Materinya antara lain Wiyata Kinarya Pengembangan Kapabilitas Pustakawan, Pembinaan Pustakawan dan SKKNI Bidang Perpustakaan-Kepustakawanan, Sertifikasi Profesi Pustakawan, serta Sertifikasi ISO.

AI dan Tantangan Literasi Digital

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi perhatian dalam penguatan kompetensi pustakawan.

Joko menilai AI merupakan perangkat yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kerja kepustakawanan. Karena itu, perkembangan teknologi tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai alat yang perlu dipahami dan dimanfaatkan secara tepat.

“Pandangan kami, AI adalah tools. Bukan sesuatu yang mengancam, melainkan alat yang dapat kita manfaatkan,” paparnya.

Menurutnya, perkembangan AI sekaligus semakin menegaskan pentingnya literasi digital. Di tengah melimpahnya informasi, pustakawan memiliki peran membantu masyarakat menilai sumber, kredibilitas, otoritas, dan aktualitas informasi.

“Sekarang persoalannya bukan lagi informasi berada di mana, karena informasi dan pengetahuan sangat berlimpah. Persoalannya adalah bagaimana memilah dan memastikan bahwa informasi yang sangat berlimpah tadi merupakan informasi yang benar,” terangnya.

IPI Award dan Call for Papers

Rakernas IPI 2026 juga menghadirkan sejumlah agenda baru, salah satunya IPI Award 2026. Penghargaan tersebut menjadi bentuk rekognisi terhadap upaya pustakawan dalam memperkuat budaya baca dan kecakapan literasi masyarakat.

Joko mengatakan penghargaan tersebut diharapkan dapat memberikan apresiasi terhadap kerja pustakawan yang selama ini banyak dilakukan di balik layar.

“Kami memandang kerja sunyi para pustakawan di balik rak, di balik meja itu ada geliat, upaya dan ikhtiar yang besar yang dilakukan oleh pustakawan. Ini merupakan hal baru dan sudah ada 23 pengurus daerah IPI yang mengusulkan,” katanya.

Wakil Ketua Umum PP IPI Edi Wiyono mengatakan IPI Award tidak hanya menilai inovasi, tetapi juga dampak yang dihasilkan bagi organisasi, instansi, dan masyarakat.

“Inovasi tidak hanya berhenti sebagai inovasi. Kita harus mengukur apakah inovasi tersebut memberikan dampak bagi organisasi, instansi, dan masyarakat secara keseluruhan,” ujarnya.

Penilaian IPI Award dilakukan berdasarkan portofolio yang mencakup keterlibatan dan dampak nyata, sinergitas dan kemitraan strategis, inovasi, kebaruan dan keberlanjutan, serta rekam jejak profesi dan integritas dokumen.

Baca Juga :  PNBP Minerba Capai Rp108,13 Triliun hingga Agustus 2026

Selain penghargaan, Rakernas juga memberikan ruang bagi pustakawan untuk berbagi hasil kajian dan praktik baik melalui call for papers. Lebih dari 20 makalah telah diterima panitia untuk diseleksi dan makalah terpilih akan dipresentasikan dalam Rakernas.

“Ini menjadi tradisi baru dalam Rakernas. Kami ingin mendorong pustakawan untuk menghasilkan karya, melakukan kajian, mendokumentasikan praktik baik, dan membagikannya kepada pustakawan lainnya,” kata Joko.

Perkuat Organisasi dan Kolaborasi

Edi mengatakan Rakernas juga menjadi ruang untuk memperkuat nilai organisasi IPI yang telah dirumuskan dalam Kongres IPI di Batam, yakni organisasi yang advokatif, demokratis, efektif, dan mengayomi (ADEM).

“Rakernas ini kami harapkan menjadi ruang bersama untuk berbicara mengenai kebijakan dan masa depan kepustakawanan. IPI ingin menjadi rumah besar, bukan hanya bagi pustakawan pemerintah, tetapi bagi seluruh pustakawan dan ekosistem kepustakawanan,” katanya.

Menurut Edi, dampak Rakernas diharapkan tidak hanya dirasakan secara internal melalui peningkatan profesionalisme pustakawan dan penguatan organisasi, tetapi juga secara eksternal melalui penguatan literasi masyarakat.

“Harapan kita ada dampak internal bagi pustakawan dan IPI, serta dampak yang lebih luas kepada masyarakat sebagai pihak eksternal,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PD IPI Jawa Tengah sekaligus Ketua Panitia Lokal Rakernas IPI 2026, Itmamudin, mengatakan persiapan pelaksanaan Rakernas di Semarang terus dimatangkan melalui koordinasi dengan PP IPI dan panitia lokal.

Rakernas direncanakan berlangsung di Hotel MG Setos, Semarang, dengan target sekitar 200–300 peserta. Panitia daerah juga berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mendukung penyelenggaraan sekaligus memperkuat kerja sama pengembangan literasi dan kepustakawanan setelah Rakernas.

Selain rapat kerja, lokakarya, gelar wicara, IPI Award, dan call for papers, rangkaian kegiatan juga akan dilengkapi wisata literasi atau healing library yang memadukan kunjungan ke sejumlah perpustakaan dengan destinasi budaya dan wisata di Jawa Tengah.

Melalui Rakernas IPI 2026, Joko berharap konsolidasi organisasi, penguatan kompetensi, pengembangan gagasan baru, dan kolaborasi lintas profesi dapat semakin memperluas manfaat kerja pustakawan bagi masyarakat.

“Rakernas akan menjadi model untuk terus melakukan konsolidasi organisasi para pustakawan, memperkuat gagasan dan ide baru, memperkuat kolaborasi antara profesi pustakawan dengan profesi lain, serta memperkuat dan memperluas dampak kerja-kerja kepustakawanan Indonesia,” pungkasnya.