Walai.id, TABANAN – Pemerintah terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional melalui program revitalisasi sarana dan prasarana sekolah secara masif. Langkah tersebut ditegaskan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, saat meresmikan revitalisasi satuan pendidikan di Kabupaten Tabanan, Bali, pada Kamis (4/6/2026).
Dalam kunjungan kerjanya, Fajar menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk melanjutkan revitalisasi sekitar 11.744 satuan pendidikan pada tahun 2026. Selain itu, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menargetkan penambahan sedikitnya 60.000 satuan pendidikan penerima program revitalisasi.
Dengan target tersebut, total sekitar 71.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia akan memperoleh dukungan program revitalisasi pada tahun 2026. Program ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperbaiki kondisi infrastruktur pendidikan dan memastikan seluruh peserta didik dapat belajar di lingkungan yang aman dan layak.
“Sejak era Orde Baru membangun SD Inpres, belum pernah ada lagi pembangunan atau perbaikan sekolah secara masif kecuali di era Bapak Prabowo ini,” ujar Fajar di hadapan ratusan guru, pimpinan daerah, dan pemangku kepentingan pendidikan yang hadir dalam acara tersebut.
Fajar menegaskan bahwa pemerintah menargetkan pada tahun 2028 tidak ada lagi sekolah dengan kategori kerusakan berat di Indonesia. Target tersebut mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Selain fokus pada pembangunan fisik sekolah, pemerintah juga terus mendorong transformasi digital dalam dunia pendidikan. Pada tahun 2025, pemerintah telah mendistribusikan sebanyak 288.000 unit Interactive Flat Panel (IFP) ke berbagai satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat hingga mencapai 800.000 unit pada tahun 2026 guna mendukung pembelajaran berbasis teknologi.
Komitmen pemerintah dalam mempercepat perbaikan sekolah rusak juga ditunjukkan melalui respons langsung terhadap kondisi di lapangan. Sebelum menghadiri peresmian revitalisasi, Fajar meninjau SD Negeri 3 Sembung Gede yang bangunannya ambruk dan membahayakan keselamatan warga sekolah.
Akibat kondisi tersebut, para siswa terpaksa menjalani proses belajar mengajar di ruang darurat, termasuk memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai ruang kelas sementara. Menyikapi situasi tersebut, Fajar langsung meminta jajarannya agar sekolah tersebut masuk dalam daftar prioritas revitalisasi tahun 2026.
“Tadi sebelum naik panggung, saya sampaikan kepada Bapak Wakil Bupati, sekolah tersebut langsung masuk daftar prioritas,” kata Fajar.
Dalam kegiatan tersebut, Wamendikdasmen juga melakukan penandatanganan simbolis revitalisasi yang mewakili 22 penerima bantuan dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, SMP, hingga Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Tabanan melaporkan bahwa sebanyak 62 sekolah di wilayahnya memperoleh bantuan revitalisasi pada tahun ini.
Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, menyatakan bahwa revitalisasi sekolah memiliki makna yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar pembangunan gedung. Menurutnya, program tersebut merupakan investasi jangka panjang dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan inspiratif bagi generasi muda.
“Revitalisasi sekolah bukan semata-mata pembangunan atau perbaikan gedung, melainkan investasi jangka panjang dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan inspiratif bagi peserta didik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendidikan merupakan investasi peradaban yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Tabanan terus menjadikan sektor pendidikan sebagai prioritas pembangunan daerah melalui peningkatan sarana dan prasarana, penguatan kompetensi guru, pengembangan literasi dan numerasi, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan pendidikan berbasis budaya dan kearifan lokal.
Tiga Tahun Menunggu Revitalisasi
Dampak nyata program revitalisasi dirasakan langsung oleh sejumlah sekolah penerima bantuan. Kepala SMP Negeri 2 Kediri, Ni Luh Putu Septawati, mengungkapkan bahwa sekolahnya telah menunggu selama tiga tahun untuk mendapatkan perbaikan dua ruang kelas yang mengalami kerusakan berat.
Kerusakan yang awalnya terjadi pada struktur baja terus memburuk hingga membuat atap ruang kelas tidak lagi aman digunakan. Setelah mendapatkan bantuan revitalisasi, kedua ruang kelas tersebut kini telah kembali digunakan dengan kondisi yang jauh lebih layak.
“Setelah tiga tahun menunggu dengan kerusakan yang terus memburuk, akhirnya sekolah kami menerima program revitalisasi,” ungkap Septawati.
Hal serupa disampaikan Kepala SD Negeri 3 Marga, I Nyoman Adi Saputra. Menurutnya, revitalisasi sekolah bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga menghadirkan kembali semangat belajar bagi siswa dan motivasi mengajar bagi para guru.
“Revitalisasi bukan sekadar perbaikan bangunan, tetapi menghadirkan kembali harapan anak-anak murid dan guru. Ruang kelas yang lebih layak menghadirkan suasana belajar yang lebih nyaman, sementara lingkungan sekolah yang baik akan menumbuhkan semangat belajar dan semangat mengajar,” ujarnya.
Menutup rangkaian kegiatan, Fajar menegaskan bahwa pembangunan pendidikan nasional harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui perbaikan infrastruktur, tetapi juga dengan meningkatkan kualitas guru dan memperkuat transformasi pembelajaran. Pemerintah terus berupaya meningkatkan kompetensi tenaga pendidik agar mampu memanfaatkan teknologi dan menghadirkan proses pembelajaran yang lebih efektif.
Melalui percepatan revitalisasi sekolah, transformasi digital pendidikan, dan penguatan kapasitas guru, pemerintah berharap seluruh anak Indonesia dapat memperoleh akses pendidikan yang aman, nyaman, dan berkualitas. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan pendidikan bermutu dan merata bagi seluruh masyarakat Indonesia.