News  

Perangi Budaya Buang Sampah di Sungai: Seruan Moral dari GP Ansor Maros

Walai.id, Maros – Sungai semestinya menjadi sumber kehidupan. Ia mengalirkan air bersih, menopang ekosistem, sekaligus menjadi penyangga keseimbangan lingkungan. Namun di Maros, fungsi mulia itu perlahan tergerus. Sungai tak lagi sekadar tercemar, tetapi telah berubah menjadi tempat pembuangan sampah terbuka, Maros, 08/04/2026.

Pemandangan tumpukan plastik, botol bekas, hingga limbah rumah tangga di aliran sungai kini bukan hal asing. Ini bukan sekadar persoalan estetika, melainkan tanda darurat ekologis yang kian diabaikan.

Di tengah kondisi tersebut, Ketua PC GP Ansor Maros, Abustan Dj, mengeluarkan seruan yang patut mendapat perhatian serius. Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama memerangi kebiasaan membuang sampah ke sungai, sebuah perilaku yang telah lama dianggap sepele, tetapi berdampak besar.

Masalah ini jauh melampaui isu kebersihan. Sungai yang dipenuhi sampah akan kehilangan daya alirnya. Ketika musim hujan datang, air meluap tanpa kendali, memicu banjir yang merusak permukiman dan mengancam keselamatan warga. Di saat yang sama, kualitas air menurun drastis, menjadi sarang bakteri dan zat berbahaya yang berpotensi memicu penyakit.

Baca Juga :  Maros Raih Dua Penghargaan dari Pemprov Sulsel, Termasuk Adipura 2025

Ekosistem pun tak luput dari kehancuran. Ikan mati, biota air terganggu, dan rantai kehidupan perlahan terputus. Ini adalah kerusakan yang tidak hanya terjadi hari ini, tetapi akan diwariskan ke generasi berikutnya jika dibiarkan.

Seruan GP Ansor Maros menegaskan satu hal penting: persoalan ini tidak bisa diserahkan pada pemerintah semata. Regulasi tanpa kesadaran kolektif hanya akan menjadi formalitas. Dibutuhkan gerakan bersama dari masyarakat, komunitas, hingga organisasi sosial untuk benar-benar mengubah keadaan.

Di sinilah peran strategis GP Ansor. 

Dengan basis massa yang kuat, organisasi ini memiliki kapasitas untuk menggerakkan kesadaran publik, baik melalui edukasi, penyuluhan, maupun aksi nyata seperti kerja bakti pembersihan sungai. Namun, perubahan sejati hanya akan terjadi jika masyarakat ikut bergerak.

Baca Juga :  Anak Sungai Maros Telan Korban, Pemerintah Kabupaten Maros Perlu Proteksi Dini Kawasan Wisata

Perang melawan sampah sejatinya adalah perang melawan kebiasaan buruk. Ia menuntut perubahan pola pikir. Sungai tidak boleh lagi dipandang sebagai tempat pembuangan instan. Ia adalah bagian dari kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.

Langkah sederhana bisa menjadi awal: tidak membuang sampah sembarangan, mengelola limbah rumah tangga dengan benar, serta menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini kepada anak-anak. Pendidikan lingkungan harus menjadi gerakan bersama, bukan sekadar wacana.

Seruan Abustan Dj bukan sekadar imbauan, melainkan panggilan moral. Ini adalah momentum untuk membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga sungai berarti menjaga kehidupan itu sendiri.

Jika masyarakat Maros mampu bersatu dan bergerak, bukan hal mustahil sungai-sungai yang hari ini tercemar akan kembali jernih dan hidup. Sebab pada akhirnya, yang kita selamatkan bukan hanya lingkungan, tetapi masa depan kita bersama.