News  

Sebagian Besar Petani Simbang Gagal Panen

Walai.id, Maros – Sebagian besar petani Simbang terpaksa beli beras, akibat gagal panen pada musim gaduh melanda di April Tahun 2023. Pemerintah tak punya kepedulian sama sekali.

Setidaknya sekitar 700 Hektar diperkirakan gagal panen padi, ribuan petani merasah kecewa tak bisa menikmati hasil panen gabah menjelan Lebaran Idul Fitri. 

“Ada sekitar 50 Ha, sawah yang kami garap tidak menghasilkan buah, tak ada sama sekali yang bisa dipanen” kata Iwan warga Jenetaesa Kecamatan Simbang. 

Hal serupa juga di alami Dg Maho, luas lahan sekita 40 Ha, pada musim Renden tahun lalu, setidaknya  menghasilkan sekotar 2 Ton gabah, kalo ini berbuah apes, “Hanya dapat 100 Kg Gabah” kata dia.

Baca Juga :  Target Kursi Pileg Terpenuhi, PAN Maros Otw Ketua DPRD

Hamah yang menyerang tanaman padi, petani menyebutnya “Bombongan” tidak menghasilkan isi, sebagian juga padi mengalami puso atau mati, pasca tanam akibat rendaman air saat banjir, melanda awal tahun lalu pada sebagian besar lahan pertanian di wilayah Kecamatan Simbang.

“Kita sudah berusaha, kerugian tidak sedikit, selain rugi biaya tanam dan pembelian pupuk tentu jugabkita rugi tenaga” kata Maho.

Pengusaha penggilingan padi, Dg Tallasa, juga mengeluhkan kegalan panen kali ini, tidak ada gabah petani yang bisa di olah, meski harga perkilo cukup tinggi Rp6.500 tapi tak ada yang bisa dibeli.

Baca Juga :  Sekda Maros Buka Sosialisasi Petunjuk Teknis Dana BOSP 2024 untuk SMP

“Untuk kebutuhan makan saja, banyak petani tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya, pagi gagal panen” kata dia.

Harga penjualan Beras di pabriknya, mencapai Rp10.050 / kg, harga pembelian memang tinggi oleh pedagang pengumpul, tapi kendalanya sulit ada petani mau jual berasnya setelah digiling.

Sudah gagal panen, tak ada program bantuan sosial yang di lakukan pemerintah. Warga diam diam saja, sejak dulu memang pemerintah kurang peduli dengan kegagalan panen di alaminya.

“Kata pemerintah produksi gabah rata rata mencapai 5 Ton perhelatar, itu pembohongan publik, istilahnya “Asal Bapak Senang” mungkin saja sampel diperoleh daerah tertentu tapi di desa kami tidak demikian” kata Jum warga Batubassi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *