Walai.id, JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat industri farmasi nasional melalui kolaborasi antara perusahaan dalam negeri dan mitra global guna mempercepat alih teknologi, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperluas akses masyarakat terhadap obat-obatan modern. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi memperkuat kemandirian sektor kesehatan sekaligus meningkatkan daya saing industri farmasi Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kerja sama antara PT Tempo Scan Pacific Tbk dan Sino Biopharmaceutical Group melalui pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI)merupakan momentum penting bagi pengembangan biofarmasi nasional.
Menurut Airlangga, kemitraan tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia dan iklim investasi yang semakin kondusif.
“Kerja sama ini menunjukkan kepercayaan dunia usaha terhadap prospek perekonomian Indonesia. Sejalan dengan arahan Presiden, Indonesia harus mampu mewujudkan kemandirian di sektor obat-obatan,” ujar Airlangga saat menghadiri peresmian pembentukan TCBI di Jakarta, pada Jumat (24/7).
Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap Indonesia mampu memproduksi berbagai obat biologis bernilai tinggi yang selama ini masih bergantung pada impor. Produk yang akan dikembangkan meliputi obat untuk penanganan kanker, penyakit hati, diabetes, gangguan pernapasan, hingga antiinfeksi.
Selain itu, kerja sama juga mencakup pengembangan antibodi monoklonal, biosimilar, protein rekombinan, sitokin, dan insulin biologis yang dinilai memiliki peran strategis dalam pelayanan kesehatan nasional.
Airlangga menegaskan, peningkatan kapasitas produksi dalam negeri akan memperkuat ketahanan sektor farmasi sekaligus menekan ketergantungan terhadap obat impor yang selama ini memiliki harga relatif tinggi.
“Harapannya, Indonesia memiliki tambahan kemandirian dalam produksi obat-obatan, terutama untuk menggantikan produk impor yang bernilai tinggi,” katanya.
Tidak hanya berfokus pada produksi, kemitraan tersebut juga diarahkan untuk mempercepat transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kemampuan manufaktur, hingga penguatan rantai pasok industri kesehatan nasional.
Pemerintah menilai langkah tersebut akan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan daya saing industri farmasi Indonesia di tingkat global.
Dalam kesempatan yang sama, Airlangga juga mengapresiasi capaian Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang telah memperoleh pengakuan sebagai WHO-Listed Authority (WLA) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Status tersebut menempatkan BPOM sebagai salah satu regulator obat berstandar internasional, bahkan masuk dalam jajaran 10 regulator terbaik dunia dan menjadi satu-satunya regulator independen dari negara berkembang yang meraih pengakuan tersebut.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyebut pembentukan TCBI akan memperkuat kemampuan produksi obat nasional melalui sinergi antara fasilitas manufaktur Tempo Scan dan pengembangan produk milik Sino Biopharmaceutical Group.
“Kolaborasi ini menjadi contoh kemitraan strategis yang akan memperkuat kemandirian industri farmasi nasional,” ujar Haryo.