News  

Indonesia–Maroko Perkuat Kerja Sama Dagang, Wamendag Dorong Perundingan PTA Dilanjutkan

Jakarta, Walai.id – Pemerintah Indonesia dan Maroko sepakat memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi dengan mendorong keterlibatan sektor swasta serta melanjutkan pembahasan perjanjian perdagangan preferensial (Preferential Trade Agreement/PTA) yang sempat tertunda.

Hal itu mengemuka dalam pertemuan Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri dengan Wakil Perdagangan Luar Negeri Maroko Omar Hejira di Jakarta, Kamis (9/7).

Wamendag Roro mengatakan Indonesia dan Maroko memiliki posisi strategis yang saling melengkapi dalam perdagangan global. Indonesia menjadi pintu masuk pasar ASEAN dengan lebih dari 680 juta penduduk, sementara Maroko memiliki posisi penting sebagai gerbang menuju Afrika, Eropa, dan kawasan Mediterania.

“Indonesia merupakan mitra dagang terbesar ketiga Maroko di ASEAN. Dengan besarnya potensi pasar kedua negara, masih terdapat ruang yang luas untuk meningkatkan perdagangan dan investasi,” ujar Roro.

Menurutnya, penandatanganan Mutual Recognition Agreement (MRA) atau Perjanjian Pengakuan Bersama terkait Jaminan Produk Halal antara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Indonesia dan Institut Marocain de Normalisation (IMANOR) Maroko pada Mei 2026 menjadi langkah penting untuk mempercepat kerja sama ekonomi kedua negara.

Roro berharap perundingan PTA Indonesia–Maroko yang dimulai sejak 2018 dapat segera diaktifkan kembali.

Baca Juga :  Hari Bhayangkara ke-80, Prabowo Minta Polri Selalu Berada di Tengah Rakyat

“PTA dan pengakuan bersama standar halal akan menjadi fondasi kuat untuk mempererat kerja sama pelaku usaha kedua negara dan meningkatkan perdagangan bilateral,” katanya.

Perundingan PTA Indonesia–Maroko sebelumnya diluncurkan melalui penandatanganan kesepakatan di Kota Fes, Maroko, pada 28 Juni 2018. Sebagian besar substansi perjanjian telah disepakati, namun pembahasannya sempat tertunda karena kedua negara fokus pada pengembangan kerja sama sektor halal.

Dalam kesempatan tersebut, Roro juga mengundang pelaku usaha Maroko untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang akan digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Kabupaten Tangerang, pada 14–18 Oktober 2026.

Ajang tersebut diharapkan menjadi sarana mempertemukan pelaku usaha global dengan produk-produk unggulan Indonesia yang memiliki daya saing tinggi dan berstandar internasional.

Sementara itu, Omar Hejira menyambut baik upaya penguatan hubungan ekonomi kedua negara. Ia menilai kerja sama perdagangan dan investasi perlu terus ditingkatkan, termasuk melalui keterlibatan yang lebih besar dari sektor swasta.

Omar juga mengundang pelaku usaha Indonesia untuk memperluas investasi dan perdagangan ke Maroko, terutama menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2030 yang akan digelar bersama Spanyol dan Portugal.

Baca Juga :  Komdigi dan Meta Bentuk Tim Bersama Tangani Lonjakan Spam Judi Online

“Kami berharap perundingan perjanjian perdagangan dapat dimulai kembali pada awal 2027. Kami juga mengundang pelaku usaha Indonesia untuk melihat langsung peluang bisnis di Maroko sebagai gerbang menuju Afrika,” ujarnya.

Hubungan dagang Indonesia dan Maroko menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Total perdagangan kedua negara pada 2025 mencapai 235 juta dolar AS atau meningkat 33,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selama Januari hingga Mei 2026, nilai perdagangan bilateral telah mencapai 158,1 juta dolar AS atau tumbuh 41,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ekspor utama Indonesia ke Maroko meliputi kopi, ban pneumatik, lemak dan minyak nabati, margarin, produk makanan olahan, serta batu bara. Sementara impor dari Maroko didominasi pupuk nitrogen dan fosfat, aluminium mentah, produk tekstil, dan berbagai bahan baku industri.

Pada 2025, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 74,8 juta dolar AS terhadap Maroko.

Di sektor investasi, Maroko tercatat sebagai investor asing ke-62 bagi Indonesia. Nilai investasi Maroko meningkat dari 1,4 juta dolar AS pada 2024 menjadi sekitar 5,4 juta dolar AS pada 2025. Secara kumulatif, investasi Maroko di Indonesia selama periode 2021–2025 mencapai sekitar 8,4 juta dolar AS melalui 122 proyek.