News  

Viral Pengrusakan Mobil di Tompobulu, Labetta Revolusi: Bukan Anggota Kami!

Walai.id, Maros – Kejadian pengrusakan mobil Toyota Hilux berwarna hitam pada Selasa, 18 Juni 2024, di Tompobulu, Kabupaten Maros, menghebohkan warga.

Pengrusakan tersebut dianggap sebagai pembegalan yang dilakukan oleh salah satu komunitas anak muda Maros, yaitu Labetta Revolusi.

Abhel, pembina anak-anak muda di Labetta Revolusi, menyayangkan pemberitaan yang beredar di salah satu media. Dalam pemberitaan tersebut, disebutkan bahwa 13 orang pelaku pengrusakan mobil Toyota Hilux tersebut merupakan anggota dari komunitas Labetta Revolusi.

“Atas dasar apa media tersebut mengatakan 13 pelaku pengrusakan merupakan anggota dari komunitas Labetta? Jika hanya persoalan stiker yang menempel di kendaraan pelaku, itu tidak boleh jadi dasar. Stiker atau baju dengan logo Labetta Revolusi kerap dijual bebas. Selain itu, tidak ada pengakuan dari ketiga belas pelaku yang ditangkap bahwa mereka adalah anggota kami. Kami juga tidak mengenal 13 orang pelaku tersebut,” ujar Abhel, Maros 19/6/2024.

Baca Juga :  Wakil Bupati Maros Resmi Menutup Kegiatan Bimtek P5 Guru SD

Dalam narasi yang dituliskan media tersebut, kejadian tersebut disebut sebagai pembegalan. Namun, pada video yang beredar, terlihat bahwa mobil tersebut sempat menabrak salah satu motor dari 13 orang tersebut.

“Saya kira keliru kalau dikatakan sebagai begal. Kalau pengrusakan, iya. Pengrusakan tentu ada motifnya, tidak mungkin langsung merusak begitu saja. Kami tentu kecewa dengan pemberitaan di media online Gemanews. Hanya karena persoalan stiker dan pengakuan dari korban, langsung menjustifikasi dan menggeneralisasi komunitas kami. Kok begitu caranya membuat berita? Tentu kami keberatan,” ujarnya.

Baca Juga :  PC GP Ansor Bertemu dengan Bupati Maros, Bahas Tambang Ilegal

Abhel menegaskan kembali kekecewaannya terhadap pemberitaan yang tidak berimbang dan menuduh komunitasnya tanpa bukti yang jelas. Ia juga menyatakan rencana untuk melaporkan media tersebut ke Dewan Pers dan pihak penegakan hukum terkait pencemaran nama baik terhadap komunitas Labetta Revolusi.

“Kami merasa kecewa dan keberatan jika komunitas kami dianggap sebagai begal. Tuduhan tersebut keliru dan tanpa bukti. Saudara Akbar Polo, yang katanya Ketua Persatuan Jurnalis Indonesia, ke depan harus membuat berita yang sesuai dan berimbang, jangan langsung tanpa ada verifikasi yang jelas. Kami juga berencana melaporkan media tersebut ke Dewan Pers serta ke pihak penegakan hukum terkait pencemaran nama baik terhadap komunitas kami,” tegas Abhel.

Tinggalkan Balasan