News  

Di Tengah Kampanye Indonesia Bersih 2026, Sampah Rumah Tangga Menumpuk di Maccopa

Walai.id, Maros – Lebih dari sepekan setelah perayaan Lebaran, persoalan klasik kembali mencuat di Kabupaten Maros: sampah rumah tangga tak kunjung diangkut. 

Di Lingkungan Maccopa, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, tumpukan sampah terlihat menggunung di depan rumah-rumah warga hingga Selasa, 31/03/ 2026.

Kondisi ini menghadirkan ironi di tengah slogan pemerintah daerah tentang “Maros Kabupaten Sehat”. Warga mulai mempertanyakan komitmen tersebut ketika layanan dasar seperti pengangkutan sampah justru terhenti dalam waktu yang tidak singkat.

Seorang ibu rumah tangga yang juga berprofesi sebagai guru PAUD di salah satu sekolah swasta mengaku kecewa. Ia meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Baca Juga :  Pemkab Maros Kucurkan Rp20,8 Miliar untuk THR dan Gaji ke-13 Guru

“Sepekan setelah Lebaran, petugas tak kunjung datang ke rumah. Sampah terus menumpuk,” ujarnya.

Menurut dia, keterlambatan pengangkutan sampah bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan. Bau menyengat mulai tercium, sementara lalat dan serangga bermunculan di sekitar permukiman warga.

Minimnya kehadiran petugas kebersihan dalam periode pasca-Lebaran ini memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan dan manajemen layanan kebersihan oleh pemerintah daerah. 

Padahal, volume sampah rumah tangga umumnya meningkat setelah hari raya sebuah kondisi yang seharusnya sudah diantisipasi.

Baca Juga :  Maros Raih Dua Penghargaan dari Pemprov Sulsel, Termasuk Adipura 2025

Warga berharap pemerintah segera turun tangan sebelum situasi kian memburuk. Mereka menilai, penanganan sampah tidak bisa bersifat insidental, melainkan membutuhkan sistem yang konsisten dan responsif, terutama di momen-momen dengan lonjakan produksi sampah.

Di tengah kampanye kebersihan dan visi lingkungan Indonesia yang bersih, sehat, dan asri di tahun 2026, serta capaian penghargaan Adipura peringkat ke-24 nasional pada 2025 untuk Kabupaten Maros, kondisi di Maccopa menjadi cermin bahwa persoalan mendasar belum sepenuhnya terselesaikan.

Penghargaan dan slogan, pada akhirnya, terasa hampa ketika sampah masih dibiarkan menumpuk di depan rumah warga.