Walai.id, Yogyakarta – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan komitmen Indonesia dalam mendorong model tata kelola kecerdasan buatan (AI) yang menempatkan manusia sebagai pengendali utama.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum 23rd Informal ASEM Seminar on Human Rights yang digelar di Yogyakarta, Senin (30/3/2026).
Menurut Nezar, pendekatan tersebut menjadi solusi konkret dalam menghadapi laju perkembangan teknologi yang melampaui regulasi.
“Fokus kita bukan pada kekhawatiran, tetapi pada desain sistem yang memastikan manusia tetap memimpin arah penggunaan AI,” ujarnya.
Ia menjelaskan Indonesia mendorong penerapan pendekatan human-in-the-loop, yakni model yang memastikan setiap sistem AI tetap berada dalam pengawasan manusia, khususnya pada sektor strategis seperti layanan publik, keamanan, dan ekonomi digital.
Pendekatan ini, kata Nezar, memberikan keseimbangan antara inovasi dan akuntabilitas. Manusia tetap memiliki ruang untuk mengintervensi, mengoreksi, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang dihasilkan oleh sistem teknologi.
Sebagai langkah konkret, pemerintah tengah menyiapkan Peta Jalan AI Nasional yang akan menjadi panduan pengembangan teknologi di Indonesia. Dokumen tersebut mencakup arah riset, penguatan talenta digital, kolaborasi lintas sektor, serta mitigasi risiko sejak tahap awal pengembangan.
Selain itu, Indonesia juga telah menetapkan sepuluh prinsip utama dalam tata kelola AI. Prinsip-prinsip tersebut mencakup perlindungan data pribadi, transparansi sistem, hingga jaminan keadilan dan inklusivitas dalam pemanfaatan teknologi.
Nezar menegaskan bahwa pendekatan yang diambil Indonesia bersifat adaptif agar mampu mengikuti dinamika perkembangan teknologi global tanpa kehilangan kendali kebijakan.
“Kita membangun sistem yang lincah, tetapi tetap memiliki kendali yang jelas. Ini penting agar inovasi tidak berjalan tanpa arah,” katanya.
Di tingkat internasional, Indonesia juga mengambil peran aktif dalam mendorong perspektif negara berkembang dalam diskursus global terkait tata kelola AI. Menurut Nezar, kerja sama yang lebih setara diperlukan agar setiap negara memiliki kesempatan yang sama dalam mengembangkan teknologi dan regulasinya.
“Indonesia hadir sebagai jembatan. Kita membawa pengalaman dan kebutuhan negara berkembang ke dalam percakapan global,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan pemanfaatan AI tidak semata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kemampuan negara dalam mengelola dan mengarahkannya secara tepat.
“Kunci dari masa depan AI adalah memastikan manusia tetap menjadi pusat keputusan. Di situlah manfaat teknologi bisa dirasakan secara nyata oleh masyarakat,” kata Nezar.