Walai.id, Pontianak — Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memimpin Apel Kesiapsiagaan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Nasional 2025 di Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Pontianak, Kamis (5/6).
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim global.
Apel dihadiri Wakil Menteri Kehutanan, Wakil Gubernur Kalimantan Barat, jajaran pemerintah daerah, Forkopimda, serta pemangku kepentingan lainnya. Menteri Raja Juli Antoni menegaskan pentingnya kolaborasi nasional sejak diluncurkannya Desk Koordinasi Pengendalian Karhutla oleh Menkopolhukam pada Maret 2025 sebagai respons terhadap Triple Planetary Crisis: perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi.
“Meski kita patut bangga karena angka karhutla menurun dari tahun ke tahun, rasa bangga ini jangan membuat kita lengah. Kita harus terus mempersiapkan diri sebaik-baiknya,” ujar Menhut.
Data menunjukkan penurunan luas karhutla signifikan dari 2,6 juta hektar pada 2015 menjadi hanya 24.154 hektare pada 2024, turun 74% dari tahun sebelumnya. Di Kalimantan Barat, penurunan mencapai 84% dalam lima tahun terakhir, dan tidak ditemukan asap lintas batas akibat karhutla selama periode tersebut.
Keberhasilan pengendalian karhutla ditopang tiga pilar utama: kolaborasi lintas sektor, penegakan hukum efektif, serta partisipasi aktif masyarakat, termasuk masyarakat adat, mahasiswa, LSM, dan dunia usaha. Saat ini, terdapat 2.370 personel Manggala Agni yang tersebar di 34 Daerah Operasi, termasuk 5 DAOP di Kalimantan Barat, yang menjadi garda terdepan pemadaman dan patroli.
Pada periode 1 Januari hingga 22 April 2025, Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla 3.207 ha, dengan Kalimantan Barat mencatat 494 ha yang tersebar di beberapa kabupaten/kota. Pemantauan titik panas dari satelit juga menunjukkan penurunan signifikan 55,6% dibanding tahun lalu.
BMKG memprediksi Kalimantan Barat akan memasuki musim kemarau pada Juni, sehingga kesiapsiagaan harus ditingkatkan. Provinsi ini juga menetapkan 52 desa sasaran pengendalian karhutla dengan pembentukan dan pembinaan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang saat ini berjumlah 1.165 personel.
Gubernur Kalimantan Barat telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla sejak 17 April hingga 31 Oktober 2025. Upaya pencegahan dan pemadaman dilakukan melalui patroli, operasi modifikasi cuaca, sosialisasi, dan koordinasi terpadu dengan pasukan Brigade Karhutla.
Menteri Kehutanan mengajak seluruh elemen masyarakat terus membangun solidaritas dan dedikasi dalam menjaga lingkungan dari ancaman karhutla. Ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Forkopimda, tokoh masyarakat, media, dunia usaha, serta pasukan Brigade Karhutla yang berjuang tanpa lelah.