News  

Kementerian ESDM Siapkan Data Akurat untuk Penanganan Dampak Kemarau di 2023

Walai.id, Nasional – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), akan mendukung kementerian dan lembaga terkait yang sedang menyiapkan langkah dan upaya antisipatif menghadapi musim kemarau kering yang diprediksi akan terjadi di 2023.

Dukungan tersebut salah satunya dengan penyediaan data akurat terkait air tanah dalam volume tinggi, sedang, dan rendah.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Kementerian ESDM, Siti Sumilah Rita Susilawati, saat memberikan keterangan dalam konferensi pers bertajuk “Antisipasi Kekeringan” usai Kick-off 10th World Water Forum (WWF) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pada Rabu (15/2/2023).

Kementerian ESDM juga telah membangun sekitar 3000 sumur bor air tanah dengan kapasitas 200 juta m3/ tahun. “Sumur bor itu telah dihibahkan kepada pemerintah kota dan kabupaten,” katanya.

Siti pun mengungkapkan agar sejumlah wilayah seperti di selatan Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur mengantisipasi dampak musim kemarau tersebut dengan melakukan berbagai koordinasi, khususnya dengan pemerintah pusat.

Baca Juga :  Kemenparekraf Dorong Pembentukan Manajemen Krisis Kepariwisataan di Daerah

Saat yang sama Koordinator Penanggulangan Dampak Perubahan Iklim Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Abriani Fensionita, menambahkan jika Kementerian Pertanian (Kementan) juga akan mengoptimalkan lahan tadah hujan untuk mengantisipasi dampak El Nino atau musim kemarau pada 2023.

“Selain itu Kementan akan mendorong produksi tanaman pangan di sejumlah sentra pertanian di seluruh wilayah tanah air,” katanya.

Beberapa upaya lain juga dilakukan Kementan di antaranya brigade tanaman pangan, optimalsiasi alat dan mesin pertanian (alsintan), serta brigade panen untuk membantu petani di masa El Nino.

Ketiga brigade di atas, kata Abriani, diharapkan dapat mempertahankan hasil panen para petani seperti padi dan jagung. “Kementan juga akan maksimalkan serapan gabah dari petani,” katanya.

Sekedar catatan, ketika El Nino berlangsung, musim kemarau menjadi sangat kering serta permulaan musim hujan yang melambat.

Baca Juga :  Butuh 4 Juta Talenta, Menteri Budi Arie Ajak Industri Cetak Ahli Keamanan Siber

Sebelumnya, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di 2023 lebih kering dibandingkan dengan periode tiga tahun terakhir (2020-2022).

Kondisi kemarau yang lebih kering dibandingkan 3 (tiga) tahun sebelumnya mengakibatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Sehingga pencegahan harus dilakukan sejak dini sebagai bentuk antisipasi.

Berdasarkan hasil monitoring BMKG, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, saat ini menunjukkan intensitas La Nina yang terus melemah dengan indeks per Januari 2023 dasarian pertama sebesar -0,80 dan pada dasarian kedua adalah sebesar -0.65.

World Water Forum atau WWF adalah forum lintas batas terbesar di dunia yang fokus dalam pembahasan isu-isu air dan mencari solusi global sebagai jawaban atas isu-isu tersebut. WWF ke-10 akan dilaksanakan di Indonesia pada 18-24 Mei 2024 dengan mengusung tema “Water for Shared Prosperity”.

Harapannya adalah melalui World Water Forum, Indonesia akan memimpin dunia bekerja bersama untuk berbagi pengalaman dan inovasi merespon berbagai tantangan pengelolaan air secara global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *