Walai.id, TANJUNGPINANG – Suasana ceria mewarnai peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Tanjungpinang melalui kegiatan Main Raya Anak Nusantara yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Berbagai permainan tradisional yang dihadirkan menjadi bukti bahwa proses belajar dapat berlangsung secara menyenangkan sekaligus mengembangkan kemampuan anak secara menyeluruh.
Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang mendorong anak belajar melalui pengalaman langsung, eksplorasi, refleksi, dan interaksi dengan lingkungan sekitar.
Permainan seperti engklek, congklak, gasing, hingga eksplorasi alam dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, kreativitas, serta nalar kritis anak.
Guru POS PAUD Putri Payung Tanjungpinang, Yuli, mengatakan permainan tradisional telah menjadi bagian dari kegiatan belajar sehari-hari di sekolah. Menurutnya, permainan engklek tidak hanya melatih kemampuan fisik, tetapi juga mengajarkan berhitung, mengenal ruang, serta membangun kesabaran dan kemampuan berinteraksi.
“Anak-anak belajar melompat, berhitung, mengenal jumlah kotak, sekaligus belajar menunggu giliran dan bermain bersama teman-temannya,” ujar Yuli, pada Kamis (23/7).
Ia menambahkan, permainan lain seperti congklak maupun aktivitas melompat sambil berhitung juga membantu mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak secara bersamaan, mulai dari kemampuan berhitung hingga keterampilan berkomunikasi dan bekerja sama.
Pendekatan serupa diterapkan dalam wahana Eksplorasi Alam yang mengangkat kekayaan bahari Kepulauan Riau. Kepala TK Negeri Pembina 2 Kota Tanjungpinang, Indarti, menjelaskan bahwa anak-anak diajak mengenal lingkungan melalui pengalaman langsung mengamati berbagai biota laut.
Mengusung tema kehidupan pesisir, peserta diperkenalkan dengan beragam satwa seperti ikan, kepiting, gonggong, kerang, hingga siput sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual yang dekat dengan kehidupan mereka.
Menurut Indarti, kegiatan tersebut tidak berhenti pada proses pengamatan. Anak-anak juga didorong untuk menceritakan kembali pengalaman yang diperoleh sehingga kemampuan berpikir kritis, berimajinasi, berbicara, dan literasi berkembang secara alami.
“Anak belajar mengeksplorasi, menemukan sesuatu, lalu menceritakannya kembali kepada teman maupun orang tua. Proses itu penting untuk membangun kemampuan bernalar kritis dan literasi sejak usia dini,” katanya.
Semangat pendidikan yang inklusif juga terlihat dalam permainan congklak yang melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus. Guru SLB Negeri 2 Tanjungpinang, Sella Melinda, mengatakan permainan tersebut efektif membantu anak mengembangkan kemampuan berhitung sekaligus meningkatkan interaksi sosial.
Menurutnya, congklak dapat menjadi sarana belajar bersama yang memberi kesempatan setiap anak untuk saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain, termasuk bagi anak yang memiliki hambatan dalam aspek sosial.
Pada momentum Hari Anak Nasional, Sella juga menyampaikan pesan penyemangat kepada anak-anak penyandang disabilitas agar terus belajar dan percaya diri dalam meraih cita-cita.
Kegiatan Main Raya Anak Nusantara menunjukkan bahwa permainan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang efektif dalam membentuk karakter, meningkatkan kreativitas, mengasah kemampuan berpikir kritis, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Kemendikdasmen berharap pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pengalaman nyata seperti ini semakin luas diterapkan di satuan pendidikan sebagai bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berpihak pada kebutuhan tumbuh kembang anak.