Walai.id, Jakarta — Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa pengembangan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia harus berfokus pada kebermanfaatan publik, bukan sekadar mengejar kecanggihan teknologi.
“AI harus membuat pelayanan publik lebih dekat, kebijakan lebih responsif, dan membuka lebih banyak pintu bagi masyarakat untuk tumbuh,” ujarnya saat peluncuran model bahasa Sahabat AI 70B di Museum Nasional, Jakarta.
Sahabat AI adalah model bahasa berbasis AI dengan 70 miliar parameter, dikembangkan oleh GoTo dan Indosat Ooredoo Hutchison dengan pendekatan open source dan berbasis konteks keindonesiaan.
Dalam pidatonya, Meutya menyoroti pentingnya membangun AI Indonesia yang mencerminkan nilai Pancasila dan semangat gotong royong, bukan sekadar meniru model asing. “Semangat sumber terbuka relevan dengan gotong royong. Kekuatan bukan pada siapa paling cepat, tapi siapa paling peduli,” katanya.
Ia juga menyinggung istilah lokal seperti sambatan (Jawa), ngayah (Bali), marsiadapari (Batak), dan sabilulungan(Sunda) sebagai wujud budaya kolaborasi yang sejalan dengan prinsip pengembangan AI nasional.
Meutya mengumumkan bahwa pemerintah tengah menyusun Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional, yang ditarget rampung Juni 2025. Peta jalan ini akan menjadi pedoman bagi pengembangan AI yang inklusif, etis, dan berakar pada kebutuhan rakyat.
“Indonesia tidak ingin hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta dan pengarah AI,” tegasnya.
Acara peluncuran turut dihadiri oleh tokoh nasional seperti Luhut Binsar Pandjaitan, Nezar Patria, Yovie Widianto, dan Mangkunegara X, serta jajaran pimpinan dari GoTo dan Indosat Ooredoo Hutchison.