News  

Mantan Napiter Bom Sarinah Jakarta Asal Enrekang Menjadi Narsum Sosialisasi Deradikalisasi

Walai.id, Enrekang –  Polres Enrekang bersama Pemerintah Kec. Malua dan tokoh masyarakat menggelar sosialisasi deradikalisasi guna menangkal faham intoleransi, radikalisme dan terorisme di Kab. Enrekang, kamis (27/04/ 2023) bertempat di Aula Kantor Camat Malua Kel. Malua Kab. Enrekang.

Kegiatan merupakan Inisiasi dari Sat. Intelkam Polres Enrekang berdasarkan petunjuk dan arahan dari Kasat Intelkam Polres Enrekang Iptu Lukman HI. Husen S. Sos.

Sosialisasi ini menghadirkan Suryadi Masud selaku mantan narapidana teroris kasus bom Sarinah Jakarta sekaligus mantan duta besar ISIS Asia Tenggara menjadi pembicara Tolak Radikalisme dan Terorisme di Kab. Enrekang.

Adapun yang hadir dalam kegiatan tersebut yaitu Camat Malua Harianto S. Pt, Kapolsek Malua AKP Zainal Massing, Lurah Malua Muh. Rum, SH, Para Kepala Desa Se Kec. Malua,Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama se- Kec. Malua.

Suryadi Mas’ud yang merupakan mantan duta besar ISIS Asia Tenggara dan pelaku utama Bom Makassar 5 Desember 2002 serta pelaku utama bom Sarinah Jakarta 2016 yang berasal dari Kec. Malua Kab. Enrekang baru bebas dari Lapas di Semarang bulan februari 2023 yang lalu, kini dirinya menjadi pihak terdepan menyuarakan penolakan paham radikalisme dan terorisme di Sulsel dan Indonesia pada umumnya.

Camat Malua Lk. Harianto S. Pt. menyampaikan ucapan terimakasih banyak kepada Sat. Intelkam Polres Enrekang yang telah menginisiasi sehingga bisa terselenggara dengan baik kegiatan tersebut, terhusus kepada Ustad Suryadi Mas’ud yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk hadir sebagai pembicara.

Baca Juga :  Target Kursi Pileg Terpenuhi, PAN Maros Otw Ketua DPRD

“Memang kegiatan seperti ini perlu kita adakan untuk menangkal sejak dini faham Radikalisme Terorisme khususnya di Kec. Malua.harapan saya semoga kita semua yang hadir disini bisa menyampaikan kepada keluarga kita untuk tidak bergabung dengan kelompok yang membawah paham teroris”, ucap Camat Malua.

Ditempat yang sama Kapolsek Malua AKP Zainal Masing menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah bersedia bekerja keras atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Keamanan dan ketertiban masyarakat bukan hanya tugas kepolisian seorang melainkan merupakan tanggung jawab kita bersama. Maka dari itu besar harapan saya agar kita semua bisa berperan aktif untuk menjaga kemanan di Kec. Malua.

Ustadz Suryadi Mas’ud mengatakan Kedatangan saya di Malua kali ini adalah untuk berziarah ke makam orang tua kami sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga yang ada di Malua. 

Saya sangat berterimakasih kepada pihak Kepolisian khususnya Intelkam Polres Enrekang dan semua pihak atas terselenggaranya kegiatan ini. saya sangat mendukung program deradikalisasi seperti ini karena dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang bahayanya paham radikalisme.

“Perlu saya cerita sedikit mulanya saya bergabung dengan kelompok radikal berawal dari RPII ( Republik Persatuan Islam Indonesia) kemudian bergabung dengan NII, selanjutnya saya bergabung ke JAD, sayapun dan keluarga berangkat ke Filipina untuk berperang disana dan ada 9 ( sembilan) orang teman saya yang meninggal dalam perang tersebut. Bahkan saya juga terlibat dalam BOM Sarinah dengan memiliki peranan sebagai pembeli bahan peledak dan senjata sekitar 100 ( seratus) pucuk”, tutur Suryadi.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Dukung Hilirisasi Hasil-hasil Bumi di Kabupaten Maros

Perlu saya tegaskan melalui sosialisasi ini bahwa kelompok Terorisme tidak perna mengakui Pancasila dan UUD sebagai dasar negara karena itu merupakan aturan buatan Manusia. 

Kelompok terorisme juga menganggap bahwa Negara Indonesia itu Thought karena berdasar pada aturan buatan Manusia dan menganggap Kepolisian sebagai Ansor Thought sehingga kelompok terorisme memerangi kepolisian dan TNI, jelas Suryadi.

Di Indonesia ada 2 jenis terorisme dan cirinya sama yakni mengkafirkan Indonesia dan orang yang terlibat didalamnya yakni ISIS. Banyak orang termasuk Polri dan TNI yang terlibat Terorisme karena mereka sudah terpapar melalui media social. 

Kelompok Radikal ini melakukan propaganda di media sosial untuk mencari simpatisan dan itu susah untuk dibendung karena semua orang dapat mengakses nya.

“Untuk kita mengetahui ciri ciri orang yang sudah terpapar paham Radikalisme seperti tidak mau jawab salam kita, tidak mau sholat berjamaah di mesjid dengan jamaah lain, tidak mau makan ayam sembelihan orang lain karena beranggapan sembelihan orang kafir, Golput pada pilkada, Tidak mau mengibarkan bendera merah putih di depan rumahnya”, ungkapnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *