News  

Kemendikdasmen Ajak Masyarakat Perkuat Budaya Literasi

Walai.id, Cilacap – Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Tatang Muttaqin menutup Puncak Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-60 Tingkat Nasional Tahun 2026 di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (25/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Tatang mengajak seluruh pihak untuk terus menghidupkan budaya literasi di tengah masyarakat. Menurutnya, berakhirnya rangkaian peringatan HAI bukan berarti gerakan literasi ikut berakhir.

“Puncak Hari Aksara Internasional 2026 telah selesai. Bawa pulang semua pengalaman ini, tapi pekerjaan kita belum selesai,” kata Tatang.

Ia mengatakan, penguatan budaya literasi masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya rendahnya budaya membaca masyarakat di tengah maraknya penggunaan gadget yang menawarkan beragam pilihan hiburan.

“Kami mengajak seluruh peserta untuk bisa meneruskan semangat literasi agar hidup di tengah masyarakat demi terwujud masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Menurut Tatang, literasi tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga memiliki kaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Kemampuan literasi turut memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan, meningkatkan kualitas hidup, hingga mendukung kesejahteraan keluarga.

Baca Juga :  Hari Bhakti Postel ke-81, Wamen Komdigi Tekankan Konektivitas

“Buta aksara dapat membelenggu kemandirian hingga rasa percaya diri seseorang, termasuk dalam mengelola keuangan keluarga,” tegasnya.

Tatang menekankan, literasi bukan sekadar kemampuan mengenali aksara, tetapi juga kemampuan memahami kehidupan dan mengambil bagian di dalamnya. Karena itu, literasi perlu menjadi kekuatan yang mendukung kemanusiaan, keberlanjutan, dan kesejahteraan.

“Literasi harus hadir ketika seseorang berusaha memahami sesamanya. Literasi harus hadir ketika masyarakat menjaga lingkungan dan sumber kehidupannya. Literasi juga harus hadir ketika warga belajar menggunakan pengetahuan serta keterampilannya untuk membangun masa depan yang lebih baik,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Tatang juga menegaskan bahwa pendidikan nonformal merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional, bukan sekadar pelengkap.

Ia mendorong pengembangan berbagai layanan pendidikan nonformal, seperti pendidikan kesetaraan, keaksaraan, kecakapan hidup, literasi digital, dan pembelajaran berbasis komunitas. Layanan tersebut dinilai perlu terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat yang dinamis.

Baca Juga :  Kemenhaj Dalami Dugaan Penyimpangan Pembayaran Dam dan Badal Haji Jemaah Purwakarta

Dengan penguatan tersebut, pendidikan nonformal diharapkan semakin relevan dalam mendukung pembelajaran sepanjang hayat.

Tatang berharap semangat HAI ke-60 dapat dilanjutkan dengan menghidupkan dan memperluas ruang-ruang belajar melalui pendidikan nonformal, baik di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Taman Bacaan Masyarakat (TBM), keluarga, desa, maupun komunitas.

Upaya tersebut, lanjutnya, perlu diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha dan dunia industri, media, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, serta kelompok pemuda.

“Dari Cilacap kita kuatkan keyakinan bahwa setiap orang dapat belajar, setiap tempat dapat menjadi ruang belajar, dan setiap pihak dapat mengambil bagian dalam gerakan literasi,” ujar Tatang.

Sebagai rangkaian penutup, Tatang juga memberikan apresiasi berupa piagam kepada pihak-pihak yang dinilai telah berkontribusi dalam membangun gerakan literasi nasional dan menyukseskan HAI 2026.

Sebanyak 17 penghargaan diberikan kepada berbagai pihak, mulai dari kepala daerah, organisasi pemerintah, lembaga pendidikan, hingga individu.